Seminar “Peran Seni dan Pendidikan untuk Keadilan Lingkungan Di Kalimantan Tengah”

Kerangka Acuan Seminar

“Peran Seni dan Pendidikan untuk Keadilan Lingkungan
Di Kalimantan Tengah”

Diselenggarakan oleh INSTITUT UNGU

bekerjasama dengan AMAN Palangkaraya dan Komunitas Teater Palangkaraya

Didukung Kedutaan Besar Norwegia di Jakarta

Palangkaraya, 23 Oktober 2014

 

LATAR BELAKANG KEGIATAN

Sejak tahun 2010, Institut Ungu telah sukses menyelenggarakan program “Ibsen dan Gender” melalui dramanya yang sangat kontroversial tentang kedudukan perempuan di mata masyarakat, yaitu A doll’s House yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Rumah Boneka”.
Drama Rumah Boneka tersebut telah sangat sukses dipentaskan di Aceh (2013), Bandung (2012) dan Jakarta (2011). Kegiatan ini diselenggarakan disertai berbagai seminar atau diskusi publik terkait dengan isu-isu perempuan dan kesetaraan gender dan berbagai kegiatan kebudayaan lain seperti tari, pembacaan puisi.
Pementasan Teater Rumah Boneka yang diselenggarakan di gedung-gedung utama seni pertunjukan di Indonesia tersebut tersebut dikunjungi ribuan orang dan telah memicu banyak diskusi.
Kegiatan tersebut telah memberi pengalaman yang baik bahwa kegiatan kebudayaan bisa sangat dekat dengan aspek-aspek kehidupan masyarakatnya. Bahkan, bisa dimanfaatkan sebagai strategi populer yang mampu menjangkau banyak pihak untuk mendiskusikan masalah-masalah penting dalam kehidupan kita, seperti masalah gender dan hak-hak perempuan dengan lebih terbuka.
Seperti kita ketahui bersama, Ibsen adalah dramawan yang melampaui jamannya, secara kritis bisa membaca masyarakatnya. Ia juga bisa dikatakan sebagai kiblatnya para teaterawandunia yang mencintai drama realis. Karya-karyanya yang ditulis lebih dari 100 tahun itu tetap menawan dan terasa dekat dengan persoalan kekinian yang dihadapi oleh masyarakat dunia.
Ibsen tidak hanya berbicara soal kedudukan perempuan di masyarakat. Ia juga menyinggung banyak aspek kehidupan. Dengan tajam ia mempersoalkan masalah demokrasi, kekuasaan bahkan persoalan lingkungan yang menyangkut keselamatan habitat manusia dan sekitarnya seperti dalam karyanya yang berjudul “An Enemy of The People “.
Berdasarkan pengalaman positif tersebut, Institut Ungu merasa perlu untuk melanjutkan program Ibsen di Indonesia dengan tema-tema yang makin luas. Pilihan kali ini jatuh kepada karyanya yang berjudul “An Enemy of The People” yang telah diterjemahkan dan diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia berjudul “Subversif!”.
Subversif! akan dipentaskan di Palangkaraya pada 23-24Oktober 2014 dan di Jakarta pada 12-14Maret 2015, dengan melibatkan berbagai macam elemen masyarakat seperti seniman, akademisi, aktivis, mahasiswa/pelajar dan pemerintah. Pementasan teater ‘Subversif! Ini merupakan bagian dari upaya Penguatan Seni sebagai agen perubahan di Masyarakat.
Untuk menunjang kegiatan tersebut, akan diadakan kegiatan berupa Seminar dengan tema:
“Peran Seni dan Pendidikan untuk Keadilan Lingkungan Di Kalimantan Tengah”
KONSEP SEMINAR

Seni sudah lama berperan dalam upaya pedagogial yang menyenangkan dan populer. Upaya ini mampu menjangkau masyarakat secara luas dan strategis untuk bisa berkontribusi mendorong terjadinya sebuah perubahan sosial. Untuk itu, dunia seni dan pendidikan seharusnya bisa bersinergi untuk mendorong berbagai perubahan positif di masyarakat termasuk untuk masalah-masalah perempuan dan keadilan lingkungan.
Namun demikian peran seni dan pendidikan dalam upaya memajukan perubahan tersebut masih memerlukan dialog dan komunikasi dengan berbagai pihak.
Dalam rangka melihat kemungkinan kerjasama mendorong perubahan isu perempuan dan lingkungan tersebut, Institut Ungu menginisiatifi sebuah seminar dengan tema “Peran Seni dan Pendidikan untuk Keadilan Lingkungan di Kalimantan Tengah”.
Seminar ini bekerja sama dengan AMAN (Aliansi Mayarakat Adat) danKomunitas Teater Palangkaraya didukung oleh Kedutaan Norwegia di Indonesia.
Pulau Kalimantan sedang mengalami perubahan yang besar dalam kehidupanekonomi, sosial dan budaya dengan semakin banyaknya industri tambang dan perkebunan kelapa sawit. Dari data website Walhi (http://walhikalteng.org/891-tambang-kebun-di-kalteng-ilegal) saja tercatat sekitar 967perusahaan yang beroperasi di Kalimantan Tengah sejak 1999.
Untuk itu, dalam seminar ini akan akan mencoba mendiskusikan seputar masalah atau pertanyaan di bawah ini:

1. Apakah munculnya ratusan perusahaan tambang dan perkebunan mempunyai dampak terhadap kondisi lingkungan alam yang kemudian juga berpengaruh terhadap situasi warga khususnya kaum perempuan, termasuk di dalamnya masyarakat adat?

2. Bagaimana peran perempuan dalam menghadapi tantangan ini ?

3. Bagaimana peran pemerintah, pendidikan dan kesenian dalam merespon situasi yang ditimbulkan oleh keadaan yang terus berkembang ?

4. Apakah dunia seni dan pendidikan bisa bersinergi untuk berpartisipasi aktif dalam mendorong perubahan positif di masyarakat untuk menjaga keamanan dan kelestarian lingkungan serta kemajuan perempuan termasuk di dalamnya kelompok masyarakat adat?

TUJUAN SEMINAR
1. Membangun dialog dan berbagi pengetahuan antara masyarakat, dunia seni, pendidikan dan pemerintah tentang masalah-masalah perempuan dan lingkungan di Kalimantan Tengah

2. Mencari kemungkinan bagaimana kegiatan seni dan pendidikan bisa bersinergi dan bisa berpartisipasi dalam mendorong perubahan-perubahan positif untuk keberlangsungan lingkungan hidup dan kemajuan perempuan termasuk kelompok masyarakat adat

Seminar ini akan di bagi ke dalam dua sesi Dikusi Panel:

 

PARA PANELIS:
PANEL I:

Pengetahuan Umum dari para ahli mengenai Masalah-masalah Lingkungan dan Perempuan di Kalimantan Tengah, dengan 3 panelis:

1. Simpun Sampurna (Direktur AMAN Palangkaraya): Membahas Situasi terkini kajian mengenai perusahaan-perusahaan Tambang dan Perkebunan di Kalimantan Tengah dan dampaknya terhadap alam dan lingkungan

2. Risma Umar (Aktivis Perempuan dan Lingkungan): Membahas Situasi terkini kajian mengenai perusahaan-perusahaan Tambang dan Perkebunan di Kalimantan Tengah dari perspektif perempuan dan melihat dampaknya terhadap perempuan termasuk masyarakat adat

3. Dr. Marko Mahin (Dosen Kehutanan UNPAR/Pemerhati Adat dan Budaya)
PANEL II:

Peluang kerjasama sinergis antara dunia seni dan pendidikan untuk untuk terlibat aktif dalam memajukan perubahan-perubahan positif di masyarakat khususnya untuk lingkungan dan perempuan termasuk di dalamnya masyarakat adat
1. Abdi Rahmat (Teropong) akan membahas bagaimana peran dunia kesenian dan pelaku seni (seniman) untuk terlibat dalam isu-isu lingkungan dan perempuan. Adakah contoh-contoh karya seni atau sastra yang telah memberi perhatian kepada isu lingkungan sehingga bisa memberi inspirasi atau refleksi kepada publik?
Apakah ada inisiatif-inisiatif dari para seniman/budayawan untuk terlibat dalam memajukan perubahan-perubahan positif di masyarakat untuk keadaaan lingkungan dan perempuan?

2. Fery Bismart (Dosen Kehutanan Unpar): Bagaimana dunia pendidikan turut mengambil peran dalam mendidik murid-muridnya/mahasiswanya untuk mencintai lingkungan dan memiliki pengetahuan akan keberlanjutan lingkungan. Metode dan Medium apa yang bisa digunakan untuk keperluan tersebut?

3. Mathius Hosang (BLH Provinsi Kalimantang Tengah) : Peran apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk mendorong dan memfasilitasi dunia seni dan pendidikan supaya bisa turut berpatisipasi aktif mendorong perubahan-perubahan positif di masyarakat untuk kemajuan perempuan dan keadaan Lingkungan di Kalimantan Tengah

4. Hafiz (Ketua Komite Seni Rupa Dewan kesenian Jakarta, Pembuat filem dan pegiat kebudayaan dan aktif menggerakan berbagai komunitas seni seperti Forum Lenteng dan Ruang Rupa) —-masih dalam tahap dihubungi

Hafiz akan berbagi pengalaman sebagai seniman yang aktif menggerakan berbagai komunitas seni dan kepeduliannya terhadap masalah-masalah sosial yang ia amati.
PESERTA SEMINAR

5. Seniman/budayawan
6. Pendididik/Guru/Akademisi
7. Pelajar/mahasiswa
8. Aktivis lingkungan dan perempuan
9. Pemerintah dan pembuat kebijakan
10. Masyarakat Adat

Peserta berjumlah 150-200 orang, perempuan dan laki-laki.
ALUR ACARA

Pukul 8.30.00 s/d 9.30: Kopi Pagi

9.30.00 – 9. 45Pembukaan : Pentas Tarian Masyarakat Adat

9.45- 10.05

1. Sambutan 1. Penjelasan mengenai program oleh Penanggung Jawab program /Direktur Institut Ungu : Faiza Mardzoeki ( 5 Menit)
2. Sambutan Direktur AMAN (5 Menit)
3. Sambutan Gubernur/Pemerintah Kalimantan Tengah/(5 Menit)
4. Sambutan Kedutaan Norwegia (5 Menit)

10.05-10.15

Baca Puisi Tentang Lingkungan oleh Seniman Kalimantan Tengah dan Puisi tantang Perempuan dan Dinda Kanya Dewi (Masing-Masing 5 Menit)

10.15 – 10.45: PANEL I (Lihat Penjelasan/Uraian tentang dikusi Panel)

Masing-masing Panelis 10 Menit
1. Academic Enviromentalist (Ahli Lingkungan)
2. Ahli Ekofeminisme (Perempuan Ahli tentang Lingkungan-Kajian Lingkungan dari Perpektif Feminis/Perempuan)
3. Perempuan Aktivis Lingkungan

10.45.00 -11.30 : Dikusi/Tanya Jawab dan Review oleh Moderator

11.30- 12.00: PANEL II (Lihat Penjelasan/Uraian tentang dikusi panel

Masing-Masing Panelis 10 Menit

1. Budayawan/Seniman (Hafiz dan Abdi Rahmat)
2. Guru/Pendidik
3. Pemerintah

12.00 – 12. 45
Tanya Jawab dan Dikusi dan review oleh Moderator

12.45- 13.00 : REVIEW UMUM dari MODERATOR /PENUTUPAN
13.00 ISTIRAHAT MAKAN SIANG

PENANGGUNG JAWAB SEMINAR:
Institut Ungu dan AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara)

Ketua Pelaksana: Vivi Widywati dan Titan