Sanikem Tak Henti Melawan

foto: salihara.org
foto: salihara.org

oleh Haris Firdaus.

“Lihat rumah itu. Mulai sekarang, itu bukan lagi rumahmu.”

Di atas andong yang hendak membawa mereka pergi, kalimat itulah yang dikatakan Sastrotomo pada anaknya, Sanikem. Hari itu, saat Sanikem berusia 14 tahun, Sastrotomo membawanya pergi dari rumah mereka dan menjualnya ke seorang administratur pabrik gula bernama Herman Mellema dengan imbalan 25 Gulden. Inilah peristiwa yang akan mengubah hidup Sanikem selamanya sekaligus punya sisi paradoks bagi dirinya.

Pada satu sisi, Sanikem jelas tersiksa atas perilaku bapaknya memperlakukannya laiknya barang dagangan. Tapi, pada sisi yang lain, Sanikem justru seperti menemukan jalan pembebasan. Dalam naungan Herman Mellema yang awalnya sangat baik, pelan-pelan Sanikem berubah. Ia belajar bahasa Belanda, membaca buku-buku berbahasa Belanda, dan mengasah kemampuannya berbisnis.

Pada akhirnya, Sanikem bukan lagi gadis kampung yang kurang pergaulan. Ia berlangganan surat kabar, membaca karya-karya Victor Hugo, memahami bagaimana negosiasi bisnis, dan menjadi pemegang kendali perusahaan Boerderij Buitenzorg milik Herman Mellema. Ia juga tak lagi dipanggil Sanikem. Semua orang memanggilnya Nyai Ontosoroh.

Kisah Ontosoroh adalah cerita yang sudah cukup dikenal publik seni. Diperkenalkan pertama kali lewat novel legendaris Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, tokoh Nyai Ontosoroh telah menjelma menjadi simbol perlawanan perempuan terhadap kesewenang-wenangan. Sosoknya mewakili perempuan yang berpikiran maju, tak mudah menyerah, dan siap melawan siapa saja yang mengganggunya.

Pada 2007, Faiza Mardzoeki membuat sebuah naskah teater yang diilhami oleh Bumi Manusia dengan tokoh utama Nyai Ontosoroh. Diberi judul Nyai Ontosoroh, pertunjukan teater yang disutradarai Wawan Sofwan itu berdurasi 3 jam dan dipentaskan oleh sekitar 20 pemain.

Tahun lalu, Faiza meringkas pertunjukan itu menjadi hanya berdurasi 1,5 jam dan dimainkan oleh 4 orang saja. Sempat dipentaskan di sejumlah kota di Indonesia, Belanda, dan Belgia, pertunjukan versi baru yang diberi judul Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh itu dimainkan kembali pada Jumat-Sabtu pekan lalu di Teater Salihara, Jakarta Selatan. Masih diarahkan oleh Wawan Sofwan, pertunjukan ini melibatkan Sita Nursanti, Willem Bevers, Agni Melati, dan Bagus Setiawan sebagai pemain.

Sebagai konsekuensi dari dimampatkannya durasi dan dikuranginya jumlah pemain, pentas teater ini harus memasang seorang pemain yang sekaligus berperan sebagai narator. Itulah kenapa dalam lakon ini Sita Nursanti—yang memerankan Sanikem—tidak hanya berakting, tapi juga bercerita. Dan jika cerita yang disampaikannya itu kelewat naratif dan verbal, itulah harga yang harus dibayar pertunjukan ini. Dengan panjangnya cerita yang harus disampaikan supaya penonton memahami konteks masalah secara keseluruhan, pentas ini akhirnya memang tak bisa menghindar dari narasi yang berlebihan.

Bahkan, pada menit-menit awal, Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh terlihat lebih mirip sebagai sebuah monolog. Sejumlah adegan yang muncul sebagai kilas balik kehidupan Sanikem terlihat tidak menyatu dengan narasi yang disampaikan Sita, dan lebih tampak sebagai ilustrasi yang gagap terhadap narasi tersebut. Untungnya, cerita pertunjukan pelan-pelan meningkat ketegangannya sehingga berhasil kembali meraih perhatian penonton.

Yang juga membuat pentas ini cemerlang adalah akting Sita Nursanti yang patut diberi acungan dua jempol. Dia berhasil menjadi seorang perempuan yang tegar dan pemarah, tapi pada saat yang lain juga kadang resah dan terpuruk. Di tangan Sita, tokoh Ontosoroh yang setegar karang dan sekuat baja berhasil tersampaikan secara baik. Saat Ontosoroh marah dan menyampaikan serapahnya, misalnya, kita ikut menahan nafas dan tergetar. Sayangnya, akting Sita kurang didukung oleh permainan Agni Melati (berperan sebagai Sanikem remaja sekaligus putri Sanikem, Annelies) dan Bagus Setiawan (berperan sebagai Minke, suami Annelis).

Berlainan dengan banyak pendapat, cerita Mereka Memanggilku Nyai Ontosorohsebenarnya tidak hanya melulu soal penindasan perempuan. Pertunjukan ini sebenarnya lebih kuat dipandang sebagai protes atas kesewenang-wenangan kaum kolonial Belanda terhadap kaum pribumi. Berlatar masa penjajahan Hindia Belanda, kisah perjuangan Ontosoroh dan Minke melindungi Annelies lebih cocok dipahami sebagai perjuangan kaum pribumi melawan standar ganda dan rasisme kaum kolonial Belanda.

Kita semua tahu, perjuangan Ontosoroh dan Minke tidak berhasil. Tapi keduanya toh tetap bisa berdiri tegak setelah kesedihan hebat akibat kehilangan Annelies. Sebab, seperti dikatakan Ontosoroh pada Minke, “Kita sudah melawan, Nak. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”