Pertunjukan Teater ‘Subversif’ Angkat Persoalan Tambang di Indonesia

subversifdlm
Jumpa pers Teater ‘Subversif’ di Largo Bistro Kemang, Senin (2/3/2015)

Jakarta -Usai mementaskan pertunjukan teater realis ‘Subversif’ di Palangkaraya Oktober 2014 lalu, kini giliran ibukota dimeriahkan oleh pementasan adaptasi dari dramawan Norwegia Henrik Ibsen. Pementasan ini akan digelar 12-15 Maret 2015 di Graha Bakti Budaya, Jakarta Pusat.

Produser pentas Faiza Mardzoeki dari Institut Ungu mengatakan naskah ‘Enemy of the People’ diterjemahkan menjadi lebih kontemporer dengan judul ‘Subversif’. Adaptasi ini tepat dipentaskan dengan kultur sosial dan masyarakat yang ada di Indonesia.

“Kami sudah berlatih dari 6 bulan yang lalu dan akan pentas selama 2 jam lebih. Cerita yang ditulis punya konteks kekinian dengan Indonesia,” katanya saat jumpa pers di Largo Bistro, Kemang, Jakarta Selatan, Senin (2/3/2015).

Sutradara Wawan Sofwan juga menambahkan jika pertunjukan ini menampilkan gaya permainan realis. “Naskah ini sangat dinantikan karena ujian bagi akting sesorang. Ditambah dengan aktivitas dan kesibukan masing-masing pemain di dunia entertaint,” tuturnya.

Permasalahan tambang di Indonesia, menurut Faiza dan Wawan, menjadi soal yang pelik. Mereka pun mengambil setting penggalian tambang.

“Kalau Ibsen membuat setting pemandian umum di Norwegia yang airnya tercemar. Di sini pemandian umum tidak lumrah, makanya kami mengganti dengan tambang,” tambah Faiza lagi.

Kali ini, ‘Subversif’ akan ditampilkan dengan panggung yang megah dan lengkap dengan lima babak. Desainer panggung dan cahaya, Iskandar K.Loedin pun menyiasatinya dengan panggung berputar.

Panggung tersebut dinilai mampu menampilkan kondisi dari pertambangan yang menghidupi kota Tambang Kencana. Visualisasi sistem eksplorasi tambang pun mendasari ide desain panggung.

Pertunjukan ini mengisahkan Kota Kencana yang dilanda kemakmuran akibat berdirinya pabrik PT Tambang Harapan Gemilang. Seluruh warga kota, walikota Jokarna hidup dengan kaya. Namun, suatu hari kota tersebut terancam bahaya karena perairan tercemar limbah. Dokter Torangga dan warga kota pun harus mengungkap kasus tersebut. Tiket pentas ini seharga Rp 50 ribu-Rp 100 ribu.

Sumber: detik.com