Kelamnya Masa Lalu Perempuan Tapol Diungkap

Bookmark and Share

DumaiHeadlines.com | Perempuan korban politik? Kisah ini sangat dekat terjadi paska tahun 1965. Karena itu banyak rahasia tentang perempuan korban politik belum terungkap ke permukaan. Salah satunya adalah rahasia Eyang Nini yang belum diungkapkan kepada Ming, cucunya itu. Kisah ibu Ming, Rahma Nina yang dilahirkan di penjara saja sudah teramat berat ditanggung Eyang Nini.

Apalagi harus membuka kisah luka ketika ia diperkosa tentara, bahwa akhirnya Eyang Nini melahirkan anak kedua dan pastilah Ming akhirnya memiliki saudara.

Aib anak haram itulah yang membuat Eyang Nini tersiksa mengisahkannya. Aib yang membuat ia tak mau menerima bayi lelaki itu selama masa pembuangan di Plantungan. Bahkan, tak mau dijumpainya sepanjang hayat.

Cerita Eyang Nini hanyalah satu kisah getir dan rawan para perempuan eks tahanan politik 1965. Para penyintas yang menderita beragam kisah. Dari yang hanya ingin belajar melukis ke sanggar yang bernaung di lembaga kebudayaan—seperti Lekra, remaja belajar menari, ibu-ibu yang diminta menyebarkan selebaran pamflet politik, seperti diberitakan Sinar Harapan.

Mereka semua ditangkap, disiksa, dan dipenjarakan. Latar itulah yang hadir dalam sosok para rekan Eyang Nini; Eyang Sulahana, Eyang Sumilah, Eyang Tarwih, dan Eyang Makmin. Mereka sengaja diundang agar Eyang Nini mendapat dukungan untuk berkisah kepada Ming, bahwa ia pernah menjadi korban perkosaan.

Kisah ini dihadirkan dalam bentuk pementasan teater berjudul Nyanyi Sunyi Kembang-kembang Genjer di GoetheHaus Jakarta, 7-9 Maret. Disutradarai oleh Faiza Mardzoeki, berlatar panggung minimalis berupa tiang-tiang geometris, dipan di sisi kanan panggung, dan pintu simbolik di belakang dipan, enam pemain mengisi cerita.

Dengan pilihan yang cenderung sunyi, permainan para pemain yang kesemuanya perempuan itu cukup mengisi suasana. Ming, yang diperankan Heliana Sinaga, bolak-balik dengan peran lain, sebagai narator.

Eyang Nini diperankan Pipien Putri yang cukup kuat mengangkat kisah tentang Nini. Tanpa mengumbar tangis, ia mampu membagikan tekanan berat kehidupan seorang mantan aktivis Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang disiksa dan difitnah dalam sejarah hidupnya.

Akting yang kuat terasa juga dimainkan Ruth Marini sebagai Eyang Sumilah. Kendati sudah tua, pengisahan dan intonasi Ruth terasa sangat jelas.

Demikian juga pemain senior Niniek L Karim yang muncul di tengah cerita. Di usianya yang memang sudah tua, Niniek mampu menjaga bahkan memandu akting tektok, drible antarpemain lainnya.

Termasuk ketika Ani Surestu sebagai Eyang Tarwih dan Irawita sebagai Eyang Makmin sibuk berdebat kenapa mereka tertangkap di masa silam itu. Mengingatkan debat nenek-nenek di masa kini. Suasana debat itu sempat membuat penonton yang mulanya mengharu-biru akhirnya tertawa terpingkal.

Hanya terasa ada dialog yang sempat terputus dan tak lancar di atas meja makan itu. Musik pun tak berani mengisi lebih jauh sunyinya pementasan, sunyi yang tak berarti musik jadi hilang atau sangat minimal.

Kendati demikian, secara keseluruhan pentas yang narasinya sangat kuat dan menarik ini—jauh dari kesan kampanye politik—terlihat sangat menguji kekuatan akting para pemain. Semua ditantang oleh karakter, vokal, dan penghayatan sosok pemain secara individual.

Mengungkap Fakta

Bagi sutradara Faiza Mardzoeki, efektif tidaknya teater sebagai media untuk penyampaian ke publik. “Efektif atau tidaknya, saya tak tahu. Inilah yang dapat saya lakukan. Naskah ini juga akan diterbitkan dalam bentuk buku,” kata Faiza yang juga berperan sebagai penulis dan produser pementasan ini, Kamis (6/3).

Ia ingin membuka fakta. Para penyintas ini diseret, disiksa, dan difitnah. Tugas generasinya adalah membuka kebenaran ini. “Saya mempertanyakannya. Kisah di Plantungan yang berisi ratusan tahanan politik hanyalah sedikit dari kisah jutaan korban politik 1965,” tuturnya lagi.

Generasinya masih dapat memahaminya. Ini berbeda dengan generasi 1980, 1990, sampai sekarang yang belum tentu mengerti kisah ini. Apalagi, kisah perempuan-perempuan ini tak pernah masuk dalam narasi besar sejarah kebangsaan kita.

Sejarah ini tetap efektif dikisahkan karena mustahil bangsa ini bicara masa depan tanpa pernah merangkai sejarahnya. Bagi dirinya sebagai aktivis, juga bagi sejarah gerakan perempuan, kisah ini mutlak harus diketahui.

“Banyak dalam sejarah itu, perempuan menjadi korban, termasuk kekerasan seksual. Itu yang harus kita ketahui,” ujar perempuan yang mengaku menjalani riset dua tahun untuk pementasan ini.

Kebenaran, Faiza memaparkan, memang sakit kalau diceritakan. Tapi penyangkalan terhadap sejarah justru akan lebih menyakitkan lagi, bagi penyintas, keluarganya, bahkan bangsa ini.***Juft/Rim/SH/Rima.