Home » Berita Media » Pementasan Teater Nyai Ontosoroh
Perlawanan Ontosoroh

Pementasan Teater Nyai Ontosoroh
Perlawanan Ontosoroh

OLEH Ilham Khoiri

“Kita telah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya!”

Sambil berucap, Nyai Ontosoroh berdiri tegak, kepala mendongak. Menantunya, Minke, masih tercenung dengan hati terluka. Keduanya mengenang kepergian Annelies, putri Ontorosoh yang sekaligus istri Minke, yang dipaksa pulang ke negeri Belanda.

Nyai itu berjuang mati-matian mempertahankan anak kandungnya. Tapi, Pengadilan Amsterdam memutuskan Annelies dikembalikan ke negeri asalnya. Ikatan darah pribumi dikalahkan oleh hukum kolonial yang memihak bangsa Eropa.

Adegan itu mengakhiri pertunjukan teater dengan lakon Nyai Ontosoroh di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 12-14 Agustus. Pergelaran yang diproduksi Institut Ungu, Jaringan Nasional Perempuan Mahardhika, dan Perguruan Rakyat Merdeka itu mengadaptasi novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer (terbit tahun 1980).

Pertunjukan diawali dengan kilas balik kehidupan Sanikem, gadis cantik asal Tulangan, Sidoarjo. Saat berusia 14 tahun, dia dijual ayahnya sendiri kepada pengusaha Belanda di Surabaya, Herman Mellema (dimainkan Williem Bivers). Setelah jadi gundik, dia dikenal sebagai Nyai Ontosoroh (diperankan artis Happy Salma).

Nyai itu belajar banyak pengetahuan Eropa, mulai dari tata niaga, bahasa Belanda, hukum, sampai sastra. Saat kesehatan Mellema melemah, perempuan itu tampil mengurus perusahaan dan rumah tangga. Keluarga campuran itu dijaga pendekar setia asal Madura, Darsam (Budi Ketjil).

Minke (Temmy Mellianto), seorang siswa HBS, terpikat putri Ontosoroh yang jelita tapi rapuh, Annelies (Madina Wowor). Namun, setelah Mellema meninggal, pengadilan kolonial justru mengirimkan gadis itu ke Belanda. Bersama Minke, Ontosoroh gigih melawan ketidakadilan.

Perlawanan

Menonton Nyai Ontosoroh, kita segera menangkap spirit perlawanan manusia yang martabatnya direnggut kekuasaan. Sebagai adaptasi dari novel Bumi Manusia, pentas ini mencerminkan kegigihan kaum tertindas yang menentang kezaliman, sebagaimana lazim terbaca dalam karya Pram.

Tapi, jangan bayangkan seluruh aura perlawanan Pram akan tumpah ruah di atas panggung. Terus terang, agak susah menangkap pesan bahwa pentas itu juga diam-diam menohok kebijakan politik Orde Baru yang membungkam segala kritik—seperti tersirat dalam tetralogi Pulau Buru-nya Pram. Penulis naskah teater itu, Faiza Mardzoeki, hanya mencuplik kisah hidup Ontosoroh yang dianggap merefleksikan kesadaran feminisme.

“Sosok Ontosoroh dalam novel itu sangat istimewa dan inspiratif bagi gerakan perempuan. Kenapa tidak mementaskannya di panggung teater? Tapi, 80 persen naskah masih mengacu pada tulisan asli Pram,” kata Faiza, yang aktif sebagai koordinator program Institut Ungu.

Sebagian pembaca karya Pram mungkin bakal kikuk karena pentas ini seperti membajak nilai humanisme universal dalam karya pengarang besar itu untuk kepentingan sekelompok feminis. Tapi, upaya itu masih dimaklumi sebagai tafsir khusus demi memperluas jangkauan “kampanye” perempuan melalui seni teater. Itu sah-sah saja, bahkan malah menggambarkan kekayaan nilai karya Pram.

Sebagai adaptasi, pentas itu bisa melangkah lebih jauh, dengan mereinterpretasi sambil memberi konteks yang aktual dengan kehidupan zaman sekarang. Di sini, tragedi Ontosoroh hanya jadi cerminan untuk membongkar segala bentuk penindasan kekuasaan (laki-laki) atas perempuan. Di dunia nyata hari-hari ini, masih terjadi trafficking (perdagangan perempuan), kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), atau bentuk diskriminasi lain.

Sulit

Pentas teater yang mengadaptasi novel selalu punya kesulitan tersendiri karena merentang jarak antara keutuhan sebuah novel dan tuntutan panggung. Nyai Ontosoroh pun bergulat dalam problem ini. Bagaimana novel Bumi Manusia setebal 350 halaman lebih dipanggungkan dalam 30-an adegan teater?

Situasi makin sulit karena sebagian penonton akrab dengan novel itu dan telanjur punya imajinasi sendiri. Sutradara Wawan Sofwan mengakali problem ini dengan membuat tiga panggung sekaligus. Satu panggung besar di tengah dan dua panggung kecil di kiri-kanan.

Tapi, kemunculan tiga panggung, yang ditangani pematung Dolorosa Sinaga, itu justru mengundang masalah lain. Dengan mengandalkan teknologi pas-pasan, pergantian panggung dari adegan satu ke adegan lain makan waktu lama. Itu berulang-ulang terjadi karena pentas ngotot menyuguhkan kisah yang lengkap. Akibatnya, penonton harus bengong sejenak untuk setiap pergantian adegan dan durasi pentas molor sampai 3,5-an jam.

Pilihan panggung minimalis—dengan hanya menghadirkan ruang tamu, kamar tidur, atau pendapa—mengurangi nuansa zaman kolonial tahun 1898 yang menjadi latar belakang cerita. Andaikan panggung memanfaatkan citra arsitektur indies zaman itu, tentu pergelaran lebih menggigit. Itu sangat mungkin jika tim produksi mau bersusah payah mendatangkan teknologi canggih, katakanlah seperti pertunjukan Phantom of The Opera di Broadway, New York, yang terkenal megah itu.

Keinginan produser menggalang kolaborasi—dengan aktivis perempuan, seniman teater, pematung, artis, atau perancang busana—memang membuat proyek ini lebih “menjual”. Tapi, casting yang terburu-buru dan terjadi perubahan personel serta sutradara, akting beberapa pemain biasa saja. Temmy Mellianto, contohnya, terlalu lembek untuk membawakan sosok Minke yang berpendidikan tinggi.

Akting Happy Salma sebagai Ontosoroh cukup mengesankan meski kekuatan suaranya belum sampai mengesankan karisma seorang nyai yang pintar sekaligus punya dendam sejarah. Pentas justru dihidupkan oleh Budi Ketjil yang berhasil memerankan Darsam, pendekar yang setia dan cekatan. Joind Bayuwinanda sebagai Bupati Bojonegoro, ayah Minke, juga bisa menyegarkan suasana.

Bagaimanapun, Nyai Ontosoroh telah berhasil memikat publik. Selama tiga malam pertunjukan, kursi penonton di Graha Bakti Budaya berkapasitas 800-an orang penuh, bahkan sebagian rela duduk di tangga jalan. Prestasi ini mengingatkan kita pada dua pertunjukan yang juga dikerjakan kelompok feminis di Jakarta tahun 2002, yaitu pentas teater Perempuan di Titik Nol (adaptasi karya feminis Mesir, Nawal el Saadawi), dan Vagina Monolog dengan naskah asli karangan Eve Ensler. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *