Home » Berita Media » Pementasan Nyai Ontosoroh
Luka Baru Nyai Ontosoroh

Pementasan Nyai Ontosoroh
Luka Baru Nyai Ontosoroh

20070819news-2KILAS BALIK, Artis Happy Salma (kanan) memerankan tokoh Nyai Ontosoroh saat pementasan teater dengan lakon Nyai Ontosoroh, 12-14 Agustus 2007 di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

Kekuatan teks lakon Nyai Ontosoroh terletak pada pergulatan sang tokoh menghadapi realitas hidup.Sebuah inspirasi bagi kaum perempuan saat ini.

Setelah cukup lama bergulat memikirkan nasib, Annelis (Madina Wowor) akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumahnya. Gadis berparas cantik itu bergegas mendekati ibunya dan menanyakan perihal koper cokelat kecil.

“Mama, mana koper warna cokelat yang mama pakai dulu. Sama seperti mama dulu pergi meninggalkan rumah dan tidak kembali,akujugaharuspergidan tidak akan kembali,”ucapnya. Annelis hendak pergi ke negeri Belanda meninggalkan ibunya tercinta Nyai Ontosoroh (Happy Salma),dan sang kekasih Minke (Temmy Meltanto).

Nyai dan Minke tertegun mendengar permintaan itu. Sang bunda kelihatan tegar, kendati hatinya tetap pedih. Segala upaya yang sudah ditempuh, baik lewat jalur hukum maupun di luar hukum, terasa sia-sia.“Kita sudah kalah,”bisik Minke yang berdiri tak jauh dari sisi Nyai.

“Kita sudah melawan Nak,Nyo.Sebaik-baiknya,sehormat- hormatnya,”timpal Nyai. Adegan paling akhir (ke-31) dari pementasan Nyai Ontosoroh pada tiga malam berturut-turut (12–14 Agustus) di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta itu menutup rangkaian konflik cerita dengan akhir yang pilu. Bagaimana tidak?

Koper cokelat yang dibawa pergi Annelis bagai mengorek kembali luka takdir getir sang ibu. Ingatan Nyai langsung tertambat pada saat dia berusia 14 tahun,saat dia masih menyandang nama perempuan desa,Sanikem.Kala itu Sanikem cilik dijual orangtuanya kepada seorang Belanda seharga 25 gulden. Koper cokelat kecil yang berisi beberapa potong pakaian menyertainya.

Sejak Sanikem tinggal dan dijadikan istri oleh Herman Mellema (Willem Bevers),koper kecil itu nyaris tak kelihatan karena disimpan di tempat tersembunyi. Lantas, Annelishendakpergidenganmenenteng koper duka sang ibu itu. Kepergian Annelis juga menegaskan kekalahan kaum pribumi di hadapan hukum kolonial dan ketakberdayaan kaum perempuan di hadapan kultur patriarki.

Annelis yang berdarah Indo itu masih di bawah naungan hukum Belanda.Karena itu,perkawinan Annelis dengan Minke, anak seorang (bupati) pribumi,dianggap tidak sah. Lagipula, perkawinan antara warga Indo dan pribumi dianggap sebagai perkawanan dari dua kelas berbeda yang tidak boleh terjadi karena darah Indo dianggap masih jauh di atas darah kaum peribumi.

Maka Annelis harus dijemput paksa meninggalkan ibunya dan meninggalkan Minke kekasihnya. Menarik.Nyai yang berlatar hidup perempuan desa yang lugu tampil tegar dan cerdas saat menghadapi majelis hakim. Dalam argumentasi hukumnya di depan pengadilan terkait status hukum anaknya,dia menggugat norma hukum Belanda dengan hukum paling hakiki dan universal: cinta kasih.

Perkawinan Annelis dan Minke, tegas dia, adalah perkawinan yang sah karena dibangun oleh perasaan saling mencintai. Hukum cinta kasih melampaui segala kelas sosial dan batas apa pun.Dengan itu,Nyai Ontosoroh mau membongkar segala bentuk sekat serta stereotipe yang membatasi pergaulan manusia. Hukum dan kultur yang membelenggu manusia dilawannya.

Penulis naskah Faiza Mardzoeki mengakui,kekuatan teks Nyai Ontosoroh terletak pada pergulatan sang tokoh menghadapi realitas.Yang patut dikagumi dari sang tokoh adalah upayanya untuk membongkar stereotipe yang ada dalam masyarakat. “Tentu ini akan memberikan inspirasi bagi kaum perempuan saat ini,”ucapnya. Lakon Nyai Ontosoroh yang diadaptasi dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer ini dibawakan dalam 31 adegan oleh puluhan pemain.

Dengan tata panggung yang jauh dari meriah (tata panggung minimalis), lakon yang mengalirkan konflik dari adegan ke adegan ini nyaris monoton. Namun dengan itu pesan cerita ditonjolkan. Untuk mencegah kesan monoton, sutradara Wawan Sofwan menerapkan konsep panggung berjalan (moving stage). Satu panggung di tengah bisa bergerak maju-mundur.

Sementara dua panggung di kanan-kiri depan, agak dekat penonton, bisa bergerak ke samping.“Dari sisi ceritanya, saya ikuti pola plot Bumi Manusia dengan titik sentral Nyai Ontosoroh, yaitu dengan flash back,”kata Wawan. (donatus nador)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *