Home » Siaran Pers » Siaran Pers Pertunjukan Teater ” SUBVERSIF! “

Siaran Pers Pertunjukan Teater ” SUBVERSIF! “

posterSIARAN PERS
Pementasan Teater “Subversif!”

Naskah drama ditulis oleh Faiza Mardzoeki
adaptasi dari drama klasik ‘Enemy Of The People’ karya Henrik Ibsen
Produser Faiza Mardzoeki

Sutradara Wawan Sofwan

Produksi INSTITUT UNGU

2014-2015

Didukung oleh Kedutaan Kerajaan Norwegia di Jakarta

Tempat Pementasan
Universitas Muhammadiyah Palangkaraya – Kalimantan Tengah , 23 & 24 Oktober 2014
Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta 12, 13, 14 Maret 2015
PARA PEMAIN
Teuku Rifnu Wikana – Dinda Kanya Dewi – Sita Nursanti – Kartika Jahja — Ayez Kassar – Andi Bersama – Madin Tasyawan – Hendra Yan

Kontak informasi:
Email: institut.ungu@gmail.com
Website: www.institutungu.org
Telp/Fax : 021- 4720552
Mobile Vivi Widyawati (Manajer Produksi) : 0815 894 6404

Penjelasan Karya ‘Subversif!’

‘SUBVERSIF!’ merupakan karya pertunjukan teater produksi Institut Ungu ke-9 yang diinisiatifi oleh produser dan penulis naskah Faiza Mardzoeki.
‘Subversif!’ merupakan naskah terjemahan dan adaptasi dari drama klasik berjudul ‘Enemy Of The People” karya Henrik Ibsen, dramawan asal Norwegia pada abad 19. Henrik ibsen merupakan dramawan yang dikenal sebagai ‘the father of realism’ dan salah satu peletak dasar teater modern di dunia. Karya-Karyanya dikenal sangat universal dan melampaui jamannya. ‘Enemy of The People’ merupakan salah satu masterpiece Henrik Ibsen yang sudah banyak dipentaskan dan diadaptasi ke berbagai bahasa di dunia dan masih terus dipentaskan hingga sekarang.
Oleh Faiza Mardzoeki, “Enemy of The People” Henrik Ibsen tersebut diterjemahkan dan diadaptasi bebas ke dalam kontek Indonesia kontemporer dengan judul ‘Subversif!’ .

Konsep Panggung dan Penggarapan
Faiza Mardzoeki bekerja sama dengan Wawan Sofwan sebagai sutradara menggarap Subversif! sebagai karya pertunjukan teater dengan mendobrak gaya konvesional ‘Henrik Ibsen’ ke pertunjukan yang lebih kontemporer. Subversif! akan menggunakan medium multimedia dengan konsep ‘CCTV’ sebagai simbol kontrol dan teror media dan visual video. Desain panggung dan tata cahaya digarap oleh Iskandar Loedin dan musik digarap oleh Marcello Pellitteri, professor di Berklee Music Collage, seorang musisi kelas dunia yang berbasis di New York
Dengan mempertimbangkan arsitektur dan aspek sosial budaya Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, maka pendekatan pentas Subversif lebih menekankan aspek tradisi sastra lisan dalam teater. Dramatic reading menjadi kekuatan utama pentas karena aspek ilusi panggung akan terasa artifisial dalam konteks sosial budaya Universitas Muhammdiyah Palangkaraya.
Dengan pendekatan teater lebih sebagai sastra lisan maka konsep panggung konvensional dengan efek ilusi panggung kami sisihkan. Peristiwa teater lebih pada efektifitas penyampaian pesan naskah yang dibawakan secara lisan dengan alat bantu tehnologi media TV sesuai kebiasaan masa kini.
Kami mengeksplorasi tehnologi Closed Circuit TV system dengan penggunaan live camera dan sejumlah monitor plasma TV ukuran 42 inci yang disebar di ruang penonton. Monitor tersebut menginformasikan secara langsung akting dan ekspresi pemain di panggung sehingga dapat memperkuat dramatic reading,
Penggunaan tehnologi tersebut, sekaligus menghadirkan dan menegaskan salah satu persoalan utama yang dibahas dalam naskah subversif, yaitu peran media dalam tata kelola masyarakat masa kini.

Para Aktor/Pemain
Para pemain/aktor dituntut mengikuti latihan-latihan panjang baik fisik maupun pendalaman teks dan konteks. Struktur dramatik Subversif lumayan rumit karena tidak linear dan memerlukan konsentrasi tinggi untuk bisa mendalami dan menghayati dialog-dilog yang sangat filosofis dan panjang tanpa harus kering dan pening.
Para aktor yang bermain di ‘Subversif!’ merupakan hasil seleksi dari audisi terbatas dan memilih aktor-aktor teater profesional yang sudah berpengalaman seperti Teuku Rifnu Wikana, yang juga merupakan aktor film, Andi Bersama, Hendra Yan , Ayez Kassar dan Madin Tasyawan.
Selain itu menghadirkan aktor perempuan baru di dunia teater namun sudah berpengalaman di film dan sinetron televisi yaitu Dinda Kanyadewi. Dilibatkan juga pemain drama musikal dan aktor teater dan film yang sudah sangat berpengalaman dan mempunyai latar belakang sebagai penyanyi profesional yaitu Sita Nursanti. Selain itu ada Kartika Jahja, musisi dengan segudang prestasi dan pernah bermain di film independen.

Sponsor

Pertunjukan Teater Subversif! didukung penuh oleh Kedutaan Kerajaan Norwegia di Jakarta.

Jadwal dan Lokasi Pertunjukan

Subversif! Akan dipentaskan di geduang aula Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, Kalimantan Tengah. 23&24 Oktober 2014. Kemudian di Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta 12, 13 & 14 Maret 2015.

Tema:
Subversif! Sebuah drama realis mengangkat tema yang sangat kuat dan relevan dengan pertanyaan hari ini secara mendalam tentang moral kebenaran dari suara mayoritas. Apakah suara mayoritas selalu benar? Apakah suara mayoritas selalu memberi jalan terbaik untuk masyarakatnya?
Drama Subversif! menantang kita semua untuk memikirkannya. Subversif! memberi pengertian bahwa kebenaran tidak boleh disembunyikan meskipun akan melawan arus mayoritas. Kebenaran harus ditegakkan meskipun kadang kesepian dan tersudut, bahkan bisa dianggap gila dan memusuhi kekuasaan.

Sinopsis

“Mayoritas selalu benar adalah tirani kebenaran! Mayoritas selalu benar adalah kebohongan sosial! Setiap manusia merdeka dan berakal sehat harus memberontak terhadapnya”

Kota Kencana sedang dilanda perasaan mabuk dengan pertumbuhan kemakmuran akibat berdirinya pabrik PT Tambang Harapan Gemilang. Seluruh warga Kota Kencana, di bawah penguasa Walikota Jokarna hidup dengan kegembiraan dan dipenuhi mimpi-mimpi menjadi kaya dan modern.
Mimpi itu berubah menjadi pertikaian. Suatu hari, Dokter Torangga, yang juga merupakan adik Walikota Jokarna, menemukan kenyataan bahwa Kota Kencana terancam bahaya karena seluruh sistem perairan kota tercemar limbah Harapan Tambang Gemilang.
Meletuslah pertikaian antara Walikota Jokarna dan Dokter Torangga. Pertikaian tersebut justru membongkar banyak pertanyaan tentang keadaan kota. Dokter Torangga mulai menggugat sistem busuk dan korup yang terjadi di kota tersebut. Namun, ia harus menghadapi politik kekuasaan yang memanipulasi kesadaran mayoritas atas nama kebenaran suci.
Di sini, para agen di masyarakat bermain. Ada pemilik media. Ada politisi. Ada Penguasa. Ada Pengusaha. Ada Ibu Rumah Tangga. Ada Wartawan. Ada intelektual. Lalu, ada massa yang diberi mahkota sangat indah yang bernama: Rakyat!
Tim Kerja Kreatif Subversif!

Produser dan Penanggung Jawab : Faiza Mardzoeki
Penulis Naskah : Faiza Mardzoeki
Sutradara : Wawan Sofwan
Komposer dan Penata Musik : Marcello Pellitteri
Desainer Panggung dan Penata Cahaya : Iskandar Loedin
Penata Suara : Mogan Pasaribu
Penata Kosutum : Hendra Yan
Penata Make-Up : Abul Sajalah
Asisten Sutradara : Ruth Marini
Manajer Panggung : Heliana Sinaga
Manajer Produksi : Vivi Widyawati
Dokumentasi Video : Amertya Kusuma
Dokumentasi Foto : Adrian Mulya
Disainer Grafis : Gerry
Manajer Keuangan : irina Dayasih
Staff Keuangan : Siti Masruroh
Serketaris : Ruth Marini
Urusan Logistik : Ati Sarmae

Tim Kerja di Palangkaraya
Titan
Huda
Aman (Aiansi Masyarakat Adat)
Komunitas Teater Palangkaraya
Tentang Institut Ungu
Institut ungu didririkan di Jakarta tahun 2002 oleh perempuan aktivis, seniman dan akademisi.
Institut Ungu bekerja untuk mempromosikan kesetaraan gender, hak asasi manusia melalui kegiatan seni budaya dan berbagai gerakan kebudayaan lainnya.
Institut Ungu aktif memproduksi pertunjukan teater yang melibatkan para seniman profesional baik dari Indonesia maupun luar negeri. Selain teater juga menyelenggarakan berbagai seminar dan dikusi masalah-masalah perempuan, hak asasi manusia , lingkungan dan seni.
Sejak 2002 Institut Ungu telah melahirkan berbagai pertunjukan teater seperti “Nyanyi Sunyi Kembang Genjer” (2014). “A doll’s House” menjadi “Rumah Boneka” (2010-2013) dan “Enemy of The People” menjadi “Subversif!” (2014-15). Karya lainnya seperti “Nyai Onstoroh”, adaptasi dari novel karya Pramoedya Ananta Toer “Bumi Manusia (2006-2007), “They Call Me Nyai Onstoroh” (2010), “Panggil Saya Kartini Saja” (2010), “Perempuan Menuntut Malam” (2008) dan “Perempuan di Titik Nol“, adaptasi dari penulis feminis Mesir Nawal El Saadawi (2002).

Informasi lebih lanjut kunjungi situs www.institutungu.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *