Home » Artikel » Perempuan dalam Teater

Perempuan dalam Teater

Strategi gerakan perempuan di Indonesia semakin meluaskan sayap. Jika sebelumnya lebih berkutat pada advokasi lewat lembaga swadaya masyarakat, kini sebagian aktivis semakin memperlebar jangkauan “kampanye” lewat seni teater. Tapi, sejauh mana efektivitasnya?

Pertunjukan teater dengan lakon Nyai Ontosoroh mencoba merambah wilayah ini. Pentas yang dijadwalkan 12-14 Agustus di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, itu diproduksi Institut Ungu, Jaringan Nasional Perempuan Mahardhika, dan Perguruan Rakyat Merdeka.

Kenapa pertunjukan itu mencerminkan perluasan wilayah gerakan perempuan? Pertama-tama, itu menyangkut pilihan tema. Naskah Nyai Ontosoroh, yang ditulis Faiza Mardzoeki, adalah adaptasi dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer (terbit tahun 1980). Salah satu tetralogi Pulau Buru itu menggambarkan perjuangan tokoh perempuan, Nyai Ontosoroh, yang melawan ketidakadilan.

Ontosoroh adalah Sanikem, gadis cantik asal Tulangan, Sidoarjo. Saat berusia 14 tahun, dia dijual oleh ayahnya sendiri kepada pengusaha Belanda di Surabaya, Herman Mellema. Sanikem pun dijadikan gundik.

Penderitaan justru membuat Sanikem bangkit, lantas mempelajari tata niaga, bahasa Belanda, dan hukum. Perempuan desa itu pun berubah menjadi seorang nyai modern yang piawai menjalankan perusahaan dan dikenal sebagai Nyai Ontosoroh.

Minke, seorang siswa HBS, tertarik dengan kepintaran Ontosoroh, kemudian menjalin asmara dengan putrinya yang jelita tapi rapuh, Annelies. Sayang, setelah Herman Mellema meninggal, pengadilan kolonial memutuskan, gadis itu harus dipulangkan ke Belanda. Meski kalah dan didiskriminasi, Ontosoroh gigih melawan.

Aktual

Walaupun ditulis dengan latar belakang zaman kolonial di Surabaya tahun 1898, semangat Ontosoroh tetap relevan untuk zaman sekarang. Karya ini memberikan inspirasi, bagaimana perempuan tidak menyerah pada nasib atau situasi yang diskriminatif, melainkan berjuang mengembangkan sumber daya dan aspirasinya sendiri.

“Sampai sekarang, kaum perempuan di Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan, seperti trafficking atau penjualan anak perempuan, kekerasan dalam rumah tangga, dan diskriminasi. Kisah itu masih aktual karena menularkan spirit untuk melawan ketidakadilan,” kata Faiza Mardzoeki yang juga menjadi koordinator program Institut Ungu itu.

Pementasan Ontosoroh dikerjakan dengan kolaborasi antara sejumlah aktivis perempuan, seniman teater, pematung, artis, perancang busana, dan sejumlah orang yang perhatian pada gerakan perempuan. Artis Happy Salma, misalnya, memerankan tokoh Ontosoroh. Temmy Mellianto memainkan Minke, Madina Wowor sebagai Annelies, dan aktor teater Budi Ketjil menjadi Darsam—pendekar penjaga keluarga Ontosoroh.

Penyutradaraan ditangani Wawan Sofwan, tata panggung oleh pematung perempuan, Dolorosa Sinaga. Desainer Merdi Sihombing mengerjakan tata busana, sedangkan musisi Fahmi Alatas menata musik. Dengan komposisi yang melibatkan banyak orang dengan kesibukan bermacam-macam, kolaborasi itu tentu makan proses panjang dengan program latihan yang sulit.

“Mungkin karena cintalah, akhirnya kami semua mau bersusah payah mewujudkan pentas ini. Saya sendiri sampai menolak beberapa tawaran job demi berkonsentrasi latihan,” kata Happy Salma seusai latihan di Galeri Nasional, Jakarta, Rabu (8/8) malam.

Lanjutan

Gagasan untuk mementaskan novel perempuan dalam bentuk teater pernah dilakukan Faiza dengan mengadaptasi novel Perempuan di Titik Nol karya feminis Mesir, Nawal el Saadawi, dalam pentas teater di TIM, Jakarta, tahun 2002. Saat itu, aktris Nurul Arifin dan Ria Irawan ikut naik panggung.

Kerja serupa pernah dilakoni sejumlah aktivis perempuan di Tanah Air. Tahun 1999, misalnya, Makassar Arts Forum (MAF) mementaskan teater Ketika Kita Kaku di Gedung Societeit de Harmonie, Ujungpandang. Karya Arman Dewarti ini mengungkap dominasi lelaki dan kekerasan yang dialami kaum hawa.

Tahun 2000, Satu Merah Panggung pimpinan Ratna Sarumpaet menggelar lakon Alia, Luka Serambi Mekah di TIM, Jakarta. Kisah ini menceritakan perlawanan perempuan terhadap orang-orang bersenjata di Aceh. Tahun 2001, lakon Bom Waktu Perempuan oleh Teater Kita Makassar dan LBH-Pemberdayaan Perempuan Indonesia juga menyoal realitas kekerasan terhadap perempuan.

Tahun 2002, Koalisi Perempuan Indonesia menggelar pentas monolog berjudul Vagina Monolog dengan naskah asli karangan Eve Ensler. Tahun itu juga, Teater Perempuan Independen pimpinan Lena Simanjuntak menggerakkan para perempuan pedesaan untuk memainkan lakon Suara dan Suara di Taman Budaya, Medan. Sebelumnya, Luna menggiatkan pentas teater yang melibatkan pekerja seks di Surabaya melalui Program Hotline Surabaya AntiAids.

Fenomena yang semakin menguat ini setidaknya memperlihatkan, sebagian kalangan masih yakin, panggung teater tetap efektif untuk menyuarakan gagasan feminisme dan kesadaran jender di tengah masyarakat. Kisah-kisah perlawanan perempuan yang inspiratif akan semakin mudah ditangkap penonton melalui adegan, dialog, dan visual secara langsung. Gagasan berat pun bisa diolah dan disajikan dengan lebih jelas.

Soal penggarapan sisi seni teaternya, itu memang jadi tantangan tersendiri. Bagaimanapun, kerja seni teater tetap menghajatkan kemampuan menggarap gagasan, naskah, dramaturgi, estetika di atas panggung, dan teknis matang yang membuat pergelaran menjadi pentas seni yang menarik. Jika para aktivis perempuan itu tak mengelolanya dengan maksimal, bisa jadi seni teater malah terpasung oleh slogan kampanye yang gagah.

Untuk pentas Ontosoroh, setidaknya masyarakat sudah menunjukkan minat yang besar. Beberapa hari menjelang hari-H, sekitar 2.400 tiket pertunjukan Nyai Ontosoroh seharga Rp 30.000-Rp 100.000 per satu tiket hampir habis terjual. Apakah semangat gerakan perempuan dan kolaborasi mereka berhasil di atas panggung? Ya, kita tonton saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *