Home » Siaran Pers » Pementasan Teater: Nyai Ontosoroh Adaptasi dari novel Bumi Manusia karya novelis terbesar Indonesia Pramoedya Ananta Toer

Pementasan Teater: Nyai Ontosoroh Adaptasi dari novel Bumi Manusia karya novelis terbesar Indonesia Pramoedya Ananta Toer

12, 13, 14 Agustus 2007
Gedung Graha Bhakti Budaya TIM Jakarta

Gagasan
Pertunjukan teater Nyai Ontosoroh pada awalnya diprakarsai oleh Faiza Mardzoeki sekaligus penulis naskahnya. Ia mengadaptasi novel Bumi Manusia karya Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer ke dalam naskah drama berjudul Nyai Ontosoroh. Ia sebelumnya pernah menggagas dan memproduksi teater berjudul Perempuan di Titik Nol, karya Feminist Mesir, Nawal El Saadawi, bersama aktivis perempuan dan seniman lainnya.

Munculnya gagasan “memanggungkan” buku Bumi Manusia karya Pram tersebut diawali dengan pemikiran buku tersebut penting dan menarik! Mengapa?

Novel Bumi Manusia berisi catatan perjalanan sejarah kita sebagai bangsa. Dan mengandung pelajaran-pelajaran penting sebagai perempuan, sebagai manusia. Saat membaca Bumi Manusia, kita bisa merefleksikan diri kita sendiri siapa kita, mengapa kita begini, lantas mau memilih tindakan apa? Hal ini tergambar secara jelas dalam tokoh perempuan Sanikem alias Nyai Ontosoroh, karakter yang dinarasikan oleh Minke – seorang sosok yang diinspirasikan oleh sang pemula kebangkitan pribumi sebagai awal kebangsaan, Tirto Adhisuryo.

Teater Nyai Ontosoroh adalah kisah perlawanan Sanikem, seorang perempuan yang dirampas kedaulatnnya justru oleh ayah kandungnya dan dihinakan oleh masyarakatnya. Ia menghadapi pergulatan hidup yang sesungguhya. Pengalaman dan lingkungannya telah menciptakan babak baru demi babak baru dalam hidupnya dan kemudian membentuk karakternya. Dalam upaya merebut kembali kedaulatannya Sanikem memilih jalan melawan. Kisah Nyai Ontosoroh dengan latar waktu Kolonial Belanda tetap aktual hinggá kini.

Karya bersama aktivis dan seniman
Pentas teater Nyai Ontosoroh di Jakarta, tanggal 12, 13 dan 14 Agustus 2007 di Gedung Graha Bhakti Budaya TIM, disutradarai oleh Wawan Sofwan, seorang sutradara yang telah berpengalaman panjang, sejak dari kelompok StudiKlub Bandung. Ia menggarap banyak pementasan drama karya klasik barat, terutama karya Betorl Brecht, di antaranya Kebangkitan Arturo Ui yang dapat dicegah, dan menyutradarai musical teater, HONK, serta pentas monolog di beberapa negara di kawasan Eropa dan Australia. Kali ini ia dibantu oleh Rin Threesa, seorang sutradara perempuan muda dengan semangat kerja mengagumkan.

Happy Salma, seorang artis dan penulis, yang juga dikenal sebagai penggemar berat karya Pram berperan sebagai Nyai Ontosoroh. Ia telah melakukan kerja keras dalam latihan-latihan yang ketat bersama aktor-aktor lain. Mereka termasuk Nuansa Ayu (Sanikem) Williem Bivers (Tuan Mellema), Temmy Mellianto (Minke), Madina Wowor (Annelies), Hendra Yan (Ir. Mauritsz), Restu Sinaga (Robert Mellema), Teuku R. Wikana (Robert Suhrof), Fellencia (Maiko), Harrist (Babah Ah Tjong), Joind Bayuwinanda (Bupati Brojonegoro), Bowo GP (Sastro Tomo), Pipien Putri (istri Sastro Tomo), Budi Ketjil (Darsam), Ayu Diah Pasha (Bunda Minke), Ayes Kassar (Jean Marrais) Sita RSD (Magda Peters), Rebecca Hensckhe, Rusman dan Rudi Wowor.

Teater Nyai Ontosoroh merupakan produksi bersama Institut Ungu, Jaringan Nasional Perempuan Mahardhika dan Perguruan Rakyat Merdeka, bersifat non profit. Didukung oleh berbagai organisasi LSM, atara lain Elsam, Jari, Koalisi Perempuan Indonesia, Kalyanamitra, LBH APIK, Perkumpulan Praxis, Kontras, Komunitas Ciliwung, Perkumpulan Seni Indonesia, Pramoedya Institut, Solidaritas Perempuan, Voice of Human Rights dan Yappika

Pada tim managemen produksi, kerja kolaborasi ini diproduseri oleh Faiza Mardzoeki dan Andi K Yuwono, serta didukung oleh berbagai individu yang menggawangi terwujudnya pementasan, antara lain Irina Dayasih, Dewi Djaja, Yulia Evina Bhara, Vivi Widyawati, Tedjo Priyono, Katarina Puji Astuti, Efriza, Siti Ma’rifah, Ratnaningsih, Eko Bambang Subiantoro, Lilik Munafidah, Warsito, Sigit Pranowo, Agung Wirayudha, Sidarta, Ripana Puntarasa, Putri Miranda dan Myra Diarsi sebagai penanggung jawab.

Pementasan Teater Nyai Ontosoroh menjadi sebuah kerja budaya kolektif dari berbagai spektrum. Para aktivis, feminist, seniman teater, pemain film, pematung, perancang busana, musisi dan mereka yang baru memasuki dunia panggung. Kami beragam dan kami kerja bersama.

Selain kita bisa menikmati keasyikan cerita, permainan para aktor yang telah latihan berbulan-bulan, kita juga akan menyaksikan tata panggung yang dikerjakan oleh pematung perempuan terkemuka, Dolorosa Sinaga, dengan tim kerjanya Gallis AS, seorang seniman topeng yang juga telah banyak terlibat dalam proyek pementasan teater. Kita akan dibawa ke nuansa masa lampau dengan rancangan busana sekitar 40 pakaian masa kolonial yang dikerjakan oleh desainer Merdi Sihombing. Tata musik oleh musisi yang telah banyak menciptakan komposisi musik untuk film dan teater, Fahmi Alatas dengan tata suara oleh Mogan Pasaribu. Tata lampu dikerjakan oleh Aziz Dying dibantu Sari Suci dan laku gerak oleh koreografer perempuan, Pipien Putri. Ada lagi, Jerri Pattimana bertindak sebagai manager panggung.

Harapan kami, pementasan teater Nyai Ontosoroh bisa memberi sumbangan pemikiran dan renungan bagi proses berbudaya dan berbangsa di Indonesia serta bisa menjadi tontonan panggung yang apik.

Selamat menyaksikan !
Jakarta, 19 Juli 2007

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *